Sebanyak 74 pesepakbola putri usia 10 hingga 13 tahun mengikuti coaching clinic bersama dua legenda sepak bola putri Jepang, Mana Iwabuchi dan Aya Miyama, di KingKong Arena, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (17/9).
Kegiatan bertajuk “MilkLife Soccer Challenge with Pokemon” ini digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife dan The Pokemon Company, dalam rangkaian MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 musim 2026–2027.

Para peserta berasal dari Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Mereka merupakan peserta MilkLife Soccer Extra Training yang dipersiapkan menuju MilkLife Soccer Challenge All-Stars tahun depan. Dalam sesi selama 90 menit, mereka berlatih teknik dasar hingga mengikuti simulasi pertandingan bersama Iwabuchi dan Miyama.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, mengatakan kehadiran dua legenda Jepang tersebut diharapkan dapat memberi gambaran kepada para pemain muda tentang perjalanan seorang pesepakbola dari usia dini hingga mencapai level dunia.
“Kami menghadirkan Aya Miyama dan Mana Iwabuchi sebagai role model. Mereka membuktikan bahwa sepak bola yang ditekuni sejak kecil, jika dijalani secara konsisten, bisa membawa prestasi luar biasa seperti medali Olimpiade dan juara Piala Dunia Wanita FIFA,” ujar Teddy.

Sementara itu, Corporate Officer The Pokemon Company, Susumu Fukunaga, mengatakan Pokemon ingin membuat sepak bola menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus mempertemukan pemain muda dengan sosok yang mereka kagumi.
“Hari ini mereka mendapat kesempatan bermain dan belajar bersama Miyama dan Iwabuchi. Keduanya sudah mencapai puncak dunia sebagai pesepakbola dan punya skill yang luar biasa,” tuturnya.
Dalam sesi latihan, peserta mendapat materi ball touch, juggling, gerakan mengecoh, step work, kontrol bola, hingga akurasi tembakan. Latihan kemudian dilanjutkan dengan simulasi pertandingan. Iwabuchi dan Miyama ikut bermain dalam setiap rotasi.
Iwabuchi menilai kemampuan dasar harus terus dilatih sejak usia dini. Ia juga melihat antusiasme para peserta sebagai hal positif.
“Saya sejak kecil setiap hari memegang bola. Saya main bola, maka dari itu saya bisa sampai di posisi seperti sekarang. Saya kira peserta di sini pun jika main bola setiap hari, pegang bola setiap hari, mereka juga bisa menjadi seperti saya,” ujar mantan pemain Arsenal Women tersebut.
Miyama juga menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung perkembangan pemain muda. Menurutnya, kompetisi dan pembinaan yang konsisten dibutuhkan untuk melahirkan pemain berkualitas.
“Jepang membutuhkan 30 tahun untuk menjadi nomor satu di dunia dan mungkin Indonesia bisa lebih cepat daripada itu,” ucap mantan kapten timnas Jepang tersebut.
Bagi Zavinna Latisya Istiana, latihan bersama dua legenda Jepang menjadi pengalaman yang berkesan. Siswi SDN Cilangkap 01 Pagi itu mengaku mendapat pelajaran tentang teknik dasar sekaligus kerja sama tim.
“Senang dan bangga sekali bisa main langsung sama pemain legendaris dari Jepang. Kami juga diajarkan kerja sama tim dan cara berkomunikasi di lapangan,” katanya.
Sementara saudara kembarnya, Zivanna Talitha Istiana, mengaku semakin termotivasi untuk mengejar cita-cita menjadi pesepakbola profesional.
“Mereka meminta kami jangan mudah menyerah dan terus bersemangat jika mau menjadi pemain sepak bola profesional. Pengalaman ini makin menambah semangat saya untuk terus disiplin berlatih agar cita-cita menjadi pesepakbola profesional dan membela Timnas Indonesia bisa terwujud,” ujarnya.

