spot_img
BerandaBOLAEks Bek Tangguh Newcastle Ini Kecanduan Kokain, Karier Berakhir Tragis, dan Rumah...

Eks Bek Tangguh Newcastle Ini Kecanduan Kokain, Karier Berakhir Tragis, dan Rumah Tangga Berantakan

Mantan bek Newcastle United dan Watford, Daryl Janmaat, mengungkapkan pengakuan memilukan tentang perjuangannya melawan kecanduan kokain setelah pensiun dari sepak bola profesional. Pengakuan itu ia sampaikan kepada media Belanda AD, sekaligus menjadi bagian dari partisipasinya dalam film dokumenter bertajuk Real Men Don’t Cry yang membahas kesehatan mental atlet elite.

Janmaat (36) dikenal sebagai bagian dari skuad Belanda yang mencapai semifinal Piala Dunia 2014. Ia mencatatkan 34 penampilan internasional serta bermain untuk klub-klub seperti Feyenoord, Heerenveen, Newcastle United, dan Watford. Kariernya berakhir pada 2022 bersama ADO Den Haag, klub masa kecilnya.

Namun, akhir kariernya tidak berjalan mulus. Cedera lutut serius yang diperparah oleh infeksi setelah prosedur suntikan membuatnya tak bisa lagi melanjutkan karier di lapangan hijau. “Karier saya selesai, dan saya tidak bisa menerimanya,” ujar Janmaat. Ia mengaku kehilangan arah setelah struktur kehidupan sebagai pesepak bola profesional mendadak hilang.

Setelah pensiun, Janmaat sempat menjabat sebagai direktur teknik di ADO Den Haag. Alih-alih membaik, situasinya justru semakin sulit. Ia merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup dalam masa transisi tersebut. Dalam periode itulah, kecanduan kokain perlahan berkembang.

“Kecanduan itu datang sedikit demi sedikit. Anda mulai berbohong kepada orang-orang yang Anda cintai. Itu menyakitkan banyak orang,” katanya. Janmaat menegaskan bahwa kecanduannya hanya terkait kokain dan bukan alkohol atau zat lain.

Dampak kecanduan tersebut turut memengaruhi kehidupan pribadinya. Ia mengakui pernikahannya dengan sang istri, Yoshi, tidak dapat bertahan. Meski secara hukum masih berstatus menikah, keduanya kini tidak lagi bersama. “Hubungan kami memang sudah bermasalah, dan kecanduan itu jelas memperburuk keadaan,” tuturnya.

Kini, Janmaat mencoba membangun kembali hidupnya dengan membuka pusat kebugaran sendiri. Ia juga menyatakan kecil kemungkinan kembali bekerja di dunia sepak bola dalam waktu dekat.

Pengakuan terbuka Janmaat menjadi pengingat bahwa tekanan dan transisi pascakarier atlet profesional dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mental, bahkan bagi mereka yang pernah berada di puncak prestasi dunia.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Paling Populer

Komentar Terbaru