Turnamen Polytron Indonesia Open 2026 ternyata menjadi salah satu target terbesar bagi Jonatan Christie. Pemain rangking lima dunia ini berharap bisa merebut gelar juara di turnamen BWF Super 1000 ini. Apalagi, Jonatan belum pernah naik podium juara di Indonesia Open.
Hal ini disampaikan Jonatan dalam konferensi pers yang berlangsung usai laga babak pertama melawan Jia Heng Jason Teh (Singapura). Jonatan menang straight game, dengan skor 21-18, 21-15.
“Seperti pernah saya sampaikan di konferensi pers, Indonesia Open adalah salah satu target terbesar di tahun ini untuk saya pribadi. Selain karena saya belum pernah juara di Indonesia Open, jadi saya dan tim memutuskan Indonesia Open adalah salah satu target terbesar kami. Saya ingin melakukan yang terbaik, saya ingin mudah-mudahan bisa meraih gelar juara. Tapi terlepas dari itu, saya ingin fokus untuk match per match dulu,” kata Jonatan usai laga.
Meski menang dua game langsung di babak pertama, Jonatan mengakui bahwa ia butuh waktu untuk beradaptasi dengan kondisi lapangan. Jonatan memang sempat tertinggal 10-14 di game pertama. Namun, perlahan tapi pasti, Jonatan kembali mengambil alih kontrol permainan.
“Tadi sedikit masih adaptasi untuk di awal-awal game. Pasti di setiap turnamen, babak pertama itu pasti enggak mudah karena adaptasi lapangan, kondisi angin, itu juga cukup mempengaruhi. Tapi bisa melewati itu, Puji Tuhan cukup happy saya,” ungkap Jonatan.
Penyelenggaraan turnamen Polytron Indonesia Open 2026 yang berurutan dengan Singapore Open memaksa pemain harus pintar menjaga kondisi. Jonatan harus terhenti di babak pertama setelah dikalahkan Prannoy HS dari India. Kekalahan ini cukup ia sayangkan, namun ia bisa mengambil hikmah dari kekalahan tersebut.
“Saya juga maunya melangkah sejauh mungkin di Singapore Open karena poinnya juga cukup besar, tapi harus berhenti di babak pertama. Jadi ya, akhirnya saya punya waktu untuk recovery lebih dan mempersiapkan diri buat Indonesia Open ini,” ungkap Jonatan.
Jonatan juga memetik pelajaran pada tiap momen kekalahan dan kemenangan yang dialaminya. Ia menilai bahwa tiap turnamen punya tantangan yang berbeda-beda karena situasi dan kondisi pertandingan juga berbeda.
“Setiap turnamen punya kesulitannya masing-masing. Sekarang kita bisa lihat saja dari tiga turnamen terakhir, shuttlecock itu beda-beda. Semua shuttlecock itu punya ciri khasnya masing-masing, mereka punya feeling touch-nya juga berbeda. Jadi kita enggak bisa bilang ketika di A itu gagal, terus di B dan di C kita melakukan kesimpulan yang sama. Saya rasa itu tidak apple to apple,” jelasnya.
“Karena setiap pertandingan, setiap arena itu punya kesulitannya masing-masing, terus juga ketemu musuhnya juga berbeda-beda. Jadi saya rasa lebih fokus ke diri sendirinya dulu aja sih paling,” tutup Jonatan.
Jonatan berpeluang untuk jumpa juniornya, Alwi Farhan, di babak kedua Polytron Indonesia Open 2026. Dengan catatan, Alwi harus mengantongi kemenangan dari duel melawan Lakshya Sen (India) yang akan berlangsung malam ini.

