spot_img
BerandaBOLAUsai Kemenangan Emosional untuk Bambang Hartono, Como Dibayangi Masalah Kerugian Klub

Usai Kemenangan Emosional untuk Bambang Hartono, Como Dibayangi Masalah Kerugian Klub

Como tampil beringas dengan menggilas Pisa 5-0 pada laga lanjutan Serie A di Stadion Sinigaglia, Minggu (22/3). Kemenangan ini memantapkan posisi skuad asuhan Cesc Fabregas di peringkat keempat jelang jeda internasional. Kemasan 57 poin hingga pekan ke-30 Serie, mereka kini unggul tiga poin dari Juventus dalam perburuan tiket kompetisi Liga Champions.

Pesta gol tuan rumah dibuka oleh aksi memukau Assane Diao saat laga baru berjalan tujuh menit. Anastasios Douvikas kemudian menggandakan keunggulan pada babak pertama, disusul oleh gol Martin Baturina di awal babak kedua. Nico Paz dan Maxi Perrone akhirnya melengkapi penderitaan tim tamu lewat gol mereka jelang akhir pertandingan.

Penampilan dominan ini sebenarnya di luar dugaan staf pelatih. Fabregas menyadari bahwa laga melawan tim yang sedang terancam degradasi selalu membawa tantangan tersendiri.

“Kami mengatakan kepada diri kami sendiri selama beberapa hari terakhir bahwa ini akan menjadi pertandingan yang sulit. Kami menyerang ruang dengan baik untuk dua gol pertama. Tim bermain cerdas, ini adalah pengalaman lain bagi mereka,” ungkap Fabregas seperti dikutip Football Italia.

Dedikasi Emosional di Balik Transformasi Klub

Di balik kemenangan gemilang tersebut, tersimpan duka yang mendalam bagi skuad Lariani. Kemenangan telak ini didedikasikan khusus untuk menghormati mendiang salah satu pemilik Como, Michael Bambang Hartono, yang wafat pada Kamis (19/3).

“Hari ini adalah kemenangan penting karena kami kehilangan sosok penting di Dunia Como. Hari ini kami mengirimkan pelukan hangat kepada keluarga Hartono. Karena merekalah kami semua bisa hidup seperti ini, kemenangan hari ini menjadi lebih penting dalam hal tersebut,” tutur Fabregas kepada DAZN setelah pertandingan.

Perjalanan Como hingga menembus papan atas Serie A bukanlah proses instan. Mereka memulai revolusi besar-besaran sejak diakuisisi usai mengalami kebangkrutan di Serie D. Transformasi luar biasa ini menciptakan iklim yang sangat emosional di dalam kota.

“Kami menikmati suasana yang indah, para pendukung merasa puas. Kami semua menginginkan lebih, tetapi kami menikmati perjalanannya. Enam atau tujuh tahun lalu, kami adalah tim provinsi di Serie D, sekarang kami membuat kemajuan nyata,” kata mantan gelandang Arsenal tersebut.

“Sulit untuk tidak jatuh cinta pada para pemain muda ini. Kami mencapai apa yang kami rencanakan dua tahun lalu. Kami tahu ke mana kami ingin pergi dan bagaimana kami ingin mencapainya, yang mana itu fundamental bagi saya,” ucapnya menambahkan.

Sayangnya, kemenangan di kandang ini harus dibayar dengan cederanya Jesus Rodriguez. Sang pemain terpaksa ditarik keluar pada babak pertama dan digantikan oleh Baturina akibat masalah lutut.

Ancaman Infrastruktur dan Jerat Finansial Eropa

Ironi besar mengintai di balik gemerlap impian menembus kompetisi elit Eropa musim depan. Jika Como benar-benar lolos ke Liga Champions, mereka justru belum siap secara infrastruktur. Stadio Sinigaglia saat ini belum memenuhi standar UEFA dan membutuhkan renovasi menyeluruh.

Jika renovasi tidak selesai pada September 2026, Como harus menjadi tim musafir di kompetisi benua biru. Laporan Calcio e Finanza menyebutkan bahwa pihak klub telah meminta izin untuk menggunakan Mapei Stadium milik Sassuolo. Langkah peminjaman kandang ini sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Atalanta.

Selain masalah stadion, ancaman sanksi Financial Fair Play (FFP) dari UEFA juga sudah menanti di depan mata. Investasi jor-joran dari keluarga Hartono membuat pembukuan klub pada Juni 2025 diproyeksikan mencatat defisit hingga 105 juta Euro atau lebih dari 2 triliun rupiah. Kerugian finansial yang masif ini berpotensi menjadi batu sandungan langkah mereka.

UEFA kemungkinan akan memberikan kelonggaran pada musim debut Como di kompetisi Eropa. Namun setelah itu, mereka harus mematuhi Settlement Agreement untuk menyeimbangkan neraca keuangan klub. Situasi pelik ini serupa dengan ujian berat yang dihadapi Aston Villa saat kembali ke Eropa pada tahun 2023 lalu.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Paling Populer

Komentar Terbaru