MilkLife Soccer Challenge Surabaya Seri 2 2025–2026 benar-benar menghadirkan panggung penuh drama di Kota Pahlawan. Selama enam hari penyelenggaraan di Lapangan Bogowonto dan Lapangan Bola Jala Krida, Surabaya, atmosfer kompetisi sepak bola putri usia dini terasa hidup. Sorak suporter, tangis haru, hingga selebrasi kemenangan berpadu menjadi satu, menandai lahirnya juara-juara baru yang menunjukkan bahwa masa depan sepak bola putri Indonesia terus bertumbuh.
Sebanyak 1.620 siswi dari 78 SD dan MI ambil bagian dalam turnamen yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife tersebut. Puluhan tim bertarung dengan semangat tinggi demi membuktikan diri sebagai yang terbaik. Hingga akhirnya, SDN Pacarkeling V/186 B keluar sebagai kampiun kategori KU 12, sementara SDN Manukan Kulon sukses merebut gelar juara KU 10. Menariknya, kedua partai final sama-sama harus ditentukan lewat drama adu penalti yang menegangkan.
Final KU 12 menjadi salah satu pertandingan paling emosional sepanjang turnamen. SDN Manukan Kulon tampil agresif sejak awal dan langsung mencuri keunggulan lewat aksi sang kapten, Emily Zitara, ketika laga baru berjalan lima menit. Lepas dari pengawalan lini belakang lawan, Emily dengan tenang melepaskan sepakan ke sisi kiri gawang yang gagal dijangkau Mikayla Ramadhania.
Gol cepat itu membuat pertandingan berjalan dalam tempo tinggi. SDN Manukan Kulon terus menggempur pertahanan SDN Pacarkeling V/186 B yang dikawal Locita Waranggaini Olah Nismara. Namun justru dari kaki pemain bernomor punggung 10 itulah kebangkitan dimulai. Empat menit setelah babak kedua dimulai, Locita melepaskan tendangan keras yang meluncur deras ke gawang lawan dan mengubah skor menjadi 1-1.
Sejak saat itu pertandingan berubah semakin panas. Kedua tim saling melancarkan serangan tanpa henti, tetapi hingga waktu normal usai tidak ada gol tambahan tercipta. Adu penalti pun menjadi penentu nasib.
Ketegangan mencapai puncaknya saat skor penalti tetap imbang 5-5. Sesuai regulasi, pemenang harus ditentukan melalui coin toss untuk menentukan giliran penendang dan penjaga gawang. SDN Pacarkeling V/186 B mendapat kesempatan sebagai eksekutor. Dalam tekanan besar, Darleine Maryam Khairunisa tampil tenang dan sukses menjalankan tugasnya. Tendangan itu memastikan kemenangan SDN Pacarkeling V/186 B sekaligus menggagalkan ambisi SDN Manukan Kulon menyapu bersih dua gelar sekaligus.
Pelatih SDN Pacarkeling V/186 B, Septyan Kurnia Hardiantoro, mengaku bangga dengan perjuangan para pemainnya yang sebagian besar masih berusia sangat muda. Ia menyebut keberhasilan timnya lahir dari proses latihan panjang dan persiapan matang yang dijalani setiap hari selepas sekolah.
“Rata-rata pemain kami masih usia 10 tahun, jadi saya sebenarnya tidak menyangka bisa sampai final. Tapi mereka menunjukkan mental luar biasa, terutama saat adu penalti. Semua lawan juga datang dengan persiapan bagus, jadi kami harus bekerja lebih keras,” ujar Septyan.
Locita yang terpilih sebagai Best Player KU 12 juga menyebut semangat pantang menyerah menjadi kekuatan utama timnya. Meski sempat tertinggal lebih dulu, ia yakin pertandingan masih bisa dibalikkan.
“Waktu tertinggal 0-1 saya merasa masih aman karena waktu masih banyak. Kami terus saling menyemangati sampai akhirnya bisa menyamakan skor dan menang,” kata Locita.
Sementara itu, final KU 10 menghadirkan cerita berbeda. Jika partai KU 12 berjalan ketat dan penuh tensi, laga KU 10 justru menyuguhkan hujan gol dan comeback dramatis. SDN DR. Sutomo V/327 langsung tampil menekan sejak menit awal. Shezan Azarine Fahima membawa timnya unggul cepat sebelum Nayla Nur Hafizah menggandakan keunggulan menjadi 2-0.
SDN Manukan Kulon sempat tertekan, tetapi tidak kehilangan semangat. Keyvara Malayeka membuka asa lewat tendangan bebas jarak jauh yang memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 sebelum turun minum.
Di babak kedua, SDN DR. Sutomo V/327 kembali menjauh lewat gol chip cantik Adiba Utomo Putro yang membawa skor menjadi 3-1. Dalam situasi sulit itu, SDN Manukan Kulon menunjukkan mental juara. Keyvara kembali mencetak gol pada menit ke-24 sebelum tiga menit berselang melengkapi hat-trick sekaligus menyamakan kedudukan menjadi 3-3.
Momentum langsung berubah. SDN Manukan Kulon tampil lebih percaya diri hingga pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti. Dalam babak penentuan itu, mereka bermain lebih tenang dan akhirnya memastikan gelar juara KU 10.
Keyvara yang menjadi pahlawan kemenangan tim mengaku pesan sang pelatih menjadi bahan bakar kebangkitan timnya di final.
“Tadi pelatih bilang jangan menyerah dan harus terus mengejar gol. Kami terus berusaha sampai akhirnya bisa bangkit dan juara. Senang sekali bisa membantu tim menang,” ucap Keyvara.
Di balik sengitnya pertandingan, MLSC Surabaya Seri 2 2025–2026 juga memperlihatkan bagaimana ekosistem sepak bola putri di Surabaya terus berkembang. Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen Ferreira Tiago, melihat kualitas pemain muda Surabaya semakin matang karena sudah terbiasa berada dalam atmosfer kompetisi sejak usia dini.
Menurut legenda Persebaya itu, Surabaya memiliki banyak talenta potensial yang bisa berkembang lebih jauh jika mendapat pembinaan yang konsisten dan kesempatan bertanding yang rutin.
“Potensi anak-anak Surabaya sangat besar. Dari postur, keberanian bermain, sampai kematangan bertanding sudah terlihat bagus. Tinggal bagaimana mereka terus diasah lewat latihan dan kompetisi,” ujar Jacksen.
Turnamen ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar perebutan trofi. MLSC menghadirkan ruang bagi lahirnya mimpi-mimpi baru di sepak bola putri Indonesia. Dari lapangan-lapangan di Surabaya, muncul keberanian, kerja keras, dan mental pantang menyerah yang menjadi fondasi penting untuk masa depan. Di tengah riuh sorak penonton dan gemuruh adu penalti, satu hal terasa pasti: generasi baru sepak bola putri Indonesia sedang tumbuh dengan penuh keyakinan.

