spot_img
BerandaBOLADerby della Madonnina Panaskan Lagi Perburuan Scudetto: Milan Pukul Inter, Momentum Berubah...

Derby della Madonnina Panaskan Lagi Perburuan Scudetto: Milan Pukul Inter, Momentum Berubah di San Siro

San Siro kembali menjadi panggung drama terbesar sepak bola Italia. Derby della Madonnina bukan sekadar pertarungan dua tim sekota, melainkan pertaruhan harga diri, sejarah, dan musim yang bisa ditentukan dalam 90 menit. Pada giornata ke-28 Serie A 2025-2026, AC Milan menghidupkan kembali perburuan Scudetto usai menumbangkan Inter Milan 1-0. Gol tunggal Pervis Estupinan bukan hanya memastikan supremasi Rossoneri di dua derby musim ini, tetapi juga mengguncang psikologi persaingan gelar.

Dengan kemenangan ini, jarak di puncak klasemen terpangkas menjadi tujuh poin. Walau masih signifikan namun dengan 10 pertandingan tersisa dan sejarah yang kini menghantui Inter bahwa tak pernah ada tim yang menjadi juara jika kalah dua kali laga derby dalam satu musim sehingga narasi Scudetto mendadak berubah arah.

Laga ini sejak awal sudah sarat tekanan. Inter datang sebagai pemuncak klasemen, tak terkalahkan di Serie A sejak kalah 0-1 dari Milan pada November lalu. Satu hasil imbang dan 14 kemenangan mempertegas dominasi mereka. Kemenangan di derby ini bisa menjadi “paku terakhir” dalam perburuan gelar.

Sebaliknya, Milan tahu ini adalah kesempatan terakhir menjaga asa. Kekalahan akan membuat selisih melebar menjadi 10 poin dan hampir mustahil dikejar dalam 10 laga tersisa. Namun, derby selalu punya logika sendiri.

Jalannya Pertandingan: Milan Efektif, Inter Frustrasi

Inter tampil lebih dominan di 30 menit awal. Henrikh Mkhitaryan hampir membuka keunggulan setelah menggiring bola dari tengah dan melepaskan tembakan keras, tetapi Mike Maignan sigap menepisnya. Tak lama berselang, justru Milan yang menghukum.

Berawal dari build-up rapi, Youssouf Fofana memainkan umpan terobosan presisi ke sisi kiri pertahanan Inter. Pervis Estupinan membaca momen dengan sempurna, berlari ke ruang yang ditinggalkan Luis Henrique, dan melepaskan sepakan keras ke sudut atas dekat gawang Yann Sommer. Gol pada menit ke-35 itu menjadi satu-satunya pembeda.

“Sungguh, itu adalah gol terpenting dalam hidup saya. Ini berkat kerja keras kami sepanjang pekan. Pelatih mengatakan kepada saya untuk menyerang ruang itu, dan saya menemukan momen yang tepat untuk berlari dan mencetak gol,” ujar Estupinan.

Gol tersebut bukan kebetulan. Sang pelatih, Massimiliano Allegri mengonfirmasi bahwa situasi itu sudah dipersiapkan dalam latihan. “Luis Henrique adalah pemain yang sangat bagus, tetapi kami sudah menyiapkan situasi itu dalam latihan. Bahkan sebelumnya ada umpan silang Rabiot yang hampir dimanfaatkan Estupinan. Fofana juga tampil sangat baik dengan assist tersebut,” kata Allegri.

Di babak kedua, Inter meningkatkan intensitas. Federico Dimarco mendapat peluang emas pada menit ke-54, tetapi sepakannya melambung. Denzel Dumfries yang masuk sebagai pemain pengganti juga sempat mengancam. Namun pertahanan Milan tampil disiplin dan terorganisir.

“Kami menciptakan terlalu sedikit untuk benar-benar menyakiti mereka. Ketika kami kebobolan, kami sering kesulitan bereaksi dengan determinasi yang cukup,” ucap Dimarco.

Inter bahkan sempat memasukkan bola ke gawang pada masa injury time, tetapi wasit sudah meniup panjang peluitnya sebelum situasi itu terjadi. Protes penalti akibat dugaan handball juga tidak dikabulkan setelah VAR menyatakan posisi tangan dalam keadaan natural. Milan pun mengamankan kemenangan 1-0 hingga peluit akhir.

Luka dan Harga Diri Kota Milan

Derby della Madonnina selalu lebih dari sekadar tiga poin. Kota Milan terbelah menjadi merah dan biru, dan hasil laga ini sering kali menentukan arah musim.

Bagi Milan, kemenangan ini memiliki makna simbolis. Terakhir kali mereka menyapu bersih dua derby liga dalam satu musim adalah 2010-2011 atau musim ketika mereka menjadi juara juga di bawah asuhan Massimiliano Allegri.

“Itu berakhir dengan Scudetto,” ujar Allegri sambil tersenyum ketika diingatkan soal musim tersebut.

Namun pelatih berpengalaman itu tetap bersikap realistis. “Inter memiliki keunggulan tujuh poin. Itu jarak yang besar. Mereka tetap tim terkuat dan favorit jelas untuk Scudetto,” tuturnya.

Luka Modric, yang mengundang puluhan keluarga dan sahabatnya termasuk Sergio Ramos ke stadion, menyebut kemenangan ini sebagai bukti karakter.

“Kami menunjukkan sedikit ‘semangat Sergio Ramos’ hari ini. Itu menunjukkan betapa baiknya kami bertahan dan terorganisir. Inter hampir tidak menciptakan apa pun yang benar-benar berbahaya,” kata Modric.

Inter Tetap Tenang atau Mulai Retak?

Cristian Chivu mengakui timnya tampil di bawah standar, terutama di babak pertama. “Babak pertama kami di bawah performa, tempo terlalu lambat. Setelah kebobolan itu menjadi pukulan bagi kami. Kami mencoba meningkatkan tempo setelah jeda dan menciptakan beberapa peluang, tetapi kesulitan menembus blok pertahanan rendah mereka,” kata Chivu.

Absennya Marcus Thuram karena flu dan Lautaro Martinez karena cedera membuat duet muda Esposito-Bonny kurang tajam. Namun Chivu menolak menjadikannya alasan.

“Itu bukan alasan. Mereka masih muda dan ini pengalaman berharga. Kami semua seharusnya bermain dengan intensitas lebih besar.”

Secara matematis, kemenangan memang akan memperlebar jarak menjadi 13 poin. Namun pernyataan itu jelas bersifat psikologis. Inter ingin menunjukkan bahwa kendali masih sepenuhnya di tangan mereka. Dimarco menguatkan narasi tersebut.

“Jika seseorang mengatakan delapan bulan lalu kami akan unggul tujuh poin di puncak klasemen, kami tidak akan percaya. Kami harus tetap tenang karena nasib kami sepenuhnya ada di tangan sendiri,” ujarnya.

Dampak ke Papan Klasemen: Api yang Kembali Menyala

Dengan 10 laga tersisa dan selisih tujuh poin, persaingan belum selesai. Secara matematis, Inter tetap di posisi ideal. Namun momentum emosional kini condong ke Milan. Rossoneri memenangi dua derby musim ini, menunjukkan organisasi pertahanan solid, serta keberanian taktik dalam mengeksploitasi kelemahan lawan.

Inter, meski masih unggul, mulai menghadapi pertanyaan soal mentalitas ketika tertinggal dan performa di laga-laga besar. Dalam konteks sejarah, fakta bahwa belum pernah ada tim yang menjadi juara setelah kalah dua kali derby dalam satu musim bisa menjadi beban psikologis tersendiri bagi I Nerazzurri.

Derby della Madonnina edisi ini mungkin hanya berakhir 1-0, tetapi dampaknya jauh melampaui skor tipis tersebut. Milan tidak hanya meraih tiga poin, melainkan juga memukul kepercayaan diri rival sekota.

Inter masih memimpin. Inter masih favorit. Namun untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ada keraguan yang menyelinap. San Siro malam itu menjadi saksi bahwa rivalitas ini tetap menjadi denyut nadi sepak bola Italia yang penuh emosi, strategi, dan gengsi.

Perburuan Scudetto kini kembali terbuka. Dan jika musim ini benar-benar berbalik arah, gol Estupinan akan dikenang sebagai momen ketika api persaingan kembali menyala di kota Milan.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Paling Populer

Komentar Terbaru